Monday, 16 December 2013

Tentang Rokok

matahari masih menunggu giliran untuk datang. Ayam sudah mulai terbangun. Ku lihat jam di handpone menunjung pukul 03.15. Segera kusudahi perbincangan dengan kawan2 hari ini yang berkisah tentang protes tentang kehidupan. Ada yang marah, ayahnya hanya dapat sisa sisa harta warisan. Ada yang terus menceritakan dirinya, dari kecil hingga mulai pandai menghisap rokok lalu ketahuan dengan ayah hingga tembakau pun dikunyah sebagai hukuman.(rase kau, kecik2 dah pandai berokok). Isi nya tetap lah protes. Sedangkan aku sibuk mengkampanye kan kepada kawan untuk berhenti merokok walau di tangan ini masih ada seperempat batang rokok, tentunya lengkap dengan api dan asapnya.
Ya, memang sejak aku bertemu diri nya, aku semakin kuat untuk berhenti dari hamba rokok. Dirinya itu nanti lah aku cerita kan kawan. Sekarang aku mau cerita tentang rokok.
Seingat ku aku mengenalnya sejak kecil. Ketika aku terlahir, disekitar ku sudah ada asap-asap dengan bau tembakau itu. Walau pun aku tak tau asap apa itu, dan tak tau namanya apa, tapi aku yakin tangis pertama ku pecah disebabkan pertama kebahagiaan lahir di dunia, kedua kesedihanku harus berjumpa dengan rokok, api dan asapnya, mungkin bayi nya aku sudah tahu, nanti setelah besar akan kenal lebih dalam dengannya.
Ayah ku dulu seorang perokok berat. Mungkin dari umur 1 tahun 4 bulan sudah mulai merokok. Semoga tebakan ku salah. Jika benar, entah warna apa paru-paru ayah ku. Hampir 3 bungkus perhari beliau menghabiskan rokok. Kadang Filter, kadang juga kretek. Mungkin juga karena alasan pekerjaan beliau yang hanya menunggu. maklum sebagai pedagang, itu merupakan kegiatan yang utama. Lalu, apalagi yang mau di lakukan jika hanya menunggu sambil berbincang dengan kawan2, jawabannya ya merokok yang tentunya ditemani air kopi. Tidak hanya ayah, Paman2 ku hampir seluruhnya adalah perokok.
Setelah berhenti dari pekerjaan itu, dengan sebab yang tidak akan aku jelas kan, walau kawan bayar berapapun, sorry jak lah. Beliau mulai lepas dari jerat Rokok. Itu juga ada alasannya, pertama Emak, sang jenderal bintang 3 dirumah ku. Emak adalah perempuan yang punya kosa kata melebihi Kamus bahasa indonesia yang isinya 1 Milyar kata. Pasti tau lah kan selanjutnya. Kedua memang ayah sudah tidak bekerja lagi yang otomatis tidak punya uang untuk membeli rokok. Akhirnya dengan perjuangan yang menurutku melebihi perang mengusir Belanda, ayah dapat berhenti.
Bukan kah kita sepakat kawan, perjuangan melawan diri sendiri itu lebih sulit dari pada melawan musuh…?
Ya itu lah perumpamaan perjuangan untuk berhenti dari barang itu. Sebelum aku lanjutkan tulisan ini, ingin kusalami ayah lalu ku beri beliau tepuk tangan semeriahnya atas kemenangan itu. Love u Ayah.

Tentang aku….?
nanti ya kawan….Aku janji akan ku cerita kan… Di sana Bantal ku telah memanggil… Good night

No comments:

Post a Comment