Saturday, 12 November 2011

Awal cerita


Untuk pertama kali, aku menulis cerita ku di sini. Di laptop THOSIBA yang ku beli dari sebuah toko komputer; royal komputer pada pameran di PCC bulan April yang lalu.
Memang cukup lama, hati ku terus berbisik "tuliss..tulisss" tapi tetap saja tidak aku heran kan. Dulu, sebelum ada laptop ini aku terus bercerita di beberapa buku. Ku sebut beberapa buku, memang buku nya banyak dan berjenis. Tapi, yang masih ku simpan hanya buku bersampul coklat yang berisi cerita ku 3 tahun yang lalu. Jadi cerita dr 3 tahun sampai sekarang ini, bertaburan di sejumlah buku yang sekarang aku tak tau bagaimana cara membacanya; bingung.

Tak terasa, waktu telah berlalu. Hitungan bulan di tahun 2011 ini pun sudah dapat dihitung dengan jari. Dari aku serius menulis cerita 3 tahun yang lalu, begitu banyak cerita yang tercecer hingga sekarang. Yang lebih parah lagi, aku tidak dapat mengingatnya kembali dengan jelas. Sekarang ini aku hanya dapat meringkasnya. Walau pun ringkasan ini tak seberapa, tapi cukup lah untuk menjadi kenangan di saat aku renta nanti.

Di tahun 2010, aku sudah tak lagi menjadi Ketua REMAF. Remaja Masjid yang aku pimpin di masa jabatan 3 tahun itu sekarang banyak perubahan. Bukan menjadi baik, malah sebaliknya. Aku akui, perubahan itu di mulai pada masa kepemimpinan ku. Begitu banyak mimpi yang aku gantungkan  untuk sebuah perubahan, baik kemajuan organisasi maupun ambisiku untuk mencatatkan sejarah keberhasilan mengelola organisasi non profit tersebut.

Dulu aku memandang bahwa organisasi sosial tersebut tak hanya bergantung terus pada proposal lalu meminta-minta dari kantor ke kantor, dari rumah ke rumah. Aku ingin menjadi kan  organisasi itu mandiri. Aku pun sibuk memikirkan usaha apa yang bisa di lakukan untuk menopang organisasi ini. Ku pilihlah dalam bidang percetakan, lalu ku beri nama REMAF CREATIvo bermarkas di sekretariat Masjid Besar Al-Fatwa. Dan itu, aku sendiri yang menjadi Manager, jadi karyawan; semuanya.

Setelah percetakan itu berjalan, dan mendapatkan sedikit order, aku mulai berpikir untuk mencari peluang lain. Ku buat lah beberapa konsep usaha dgn memanfaatkan halaman depan masjid. Lalu datang lah tawaran dari anggota Remaf, Fitri namanya. Dia bersedia mengisi tenda yang kami dirikan di depan masjid itu dengan berjualan pulsa. Tanpa pikir panjang, tanpa memperhitungkan untung rugi dan bagi-bagi keuntungan; aku pun setuju.

Hari demi hari aku menjalani hidup di sekretariat masjid itu. Mengelola usaha dan memikirkan terus usaha apa lagi yang akan di lakukan. Timbul lah ide untuk menerbitkan buletin jum'at. Ide itu pun disambut baik oleh kawan-2. Setelah berdiskusi dan membagi tugas, akhirnya Buletin Jum'at itu pun terbit dengan nama Al-Bilal. Dengan oplah hanya 50 eksemplar yang didistribusikan hanya di Masjid Besar Al-Fatwa. Untuk langkah awal, itu sudah cukup. Karena untuk membuat sebanyak itu, butuh berhari2. Dari mulai pencarian bahan, layout sampai cetak. Pencetakan saja hanya memakai printer canon seri IP 1700 tanpa infus.

Dalam proses pembuatan Al-Bilal, aku juga terlibat dalam pencarian bahan, Layout dan pencetakan. Bukan karena aku yang mau terlibat, tapi harus terlibat karena hanya aku yang bisa Layout.

Jadi lah aku terlibat di tiga jenis usaha ini. Untuk mengurusnya, sangat menguras waktu. Sehingga kegiatan Remaf yang memiliki beberapa program menjadi tidak terlaksana. Kegiatan yang tak kunjung ada tersebut lah, membuat sedikit demi sedikit anggota REMAF hilang di telan kegiatan pribadi mereka.

Sebenarnya di masa kepemimpinan ku, ada 2 kegiatan besar yang di lakukan. Pertama, berbagai jenis lomba pada Peringatan Isra'Mi'raj. Di antaranya, Gerak jalan Zikrulllah. Kegiatan yang disponsori Rokok country ini memang baru pertama kali di laksanakan dan melibatkan banyak orang. Lalu, Perayaan Tahun Baru Islam. Setelah itu, tak ada lagi kegiatan yang besar. Bahkan kegiatan rutinitas yang berskala kecil pun sudah tidak ada.
Aku bingung. Konsep yang aku ciptakan sendiri itu, membuat aku semakin bingung. Lebih2 lagi setelah satu persatu usaha itu mengalami kemerosotan. Pertama, penjualan pulsa, kemudian diikuti Al-Bilal. Terakhir, usaha percetakan itu.

Aku gagal.

Di akhir laporan pertanggung jawaban ku, tak banyak yang bisa aku bicarakan selain kata maaf dan uraian air mata. Hanya komputer pentium 3 yang menjadi kenangan ku sewaktu menjabat. Komputer serharga 800 ribu itu ku beli dari hasil pendapatan Kantin ramadhan di tahun pertama. Hanya itu. 

Kegagalan itu tidak dapat aku tebus dengan kesuksesan. Karena setelah itu aku digantikan. Bukan karena aku kalah dalam pemilihan atau bukan karena kawan2 tidak mau memilihku lagi, tapi aku yang tak lagi mencalonkan diri. Itu ku lakukan karena aku ada kesibukan lain yang mungkin membuat aku mengecap diri ku layak sebagai orang yang gagal. Untuk menebus dosa ku 3 tahun, aku menjadikan diri ini sebagai anggota biasa lagi dengan menjadi koordinator Perpustakaan. Sebenarnya, mantan ketua sebaiknya hanya menjadi penasehat. Tapi itu aku anggap hanya sebagai tradisi yang turun temurun dilakukan oleh para Senior2 terdahulu yang tak mau diperintah lagi oleh bawahannya saat dulu.

Di jabatan ku sekarang, aku juga belum benar2 menjalankannya. Dan sekarang ini aku bertekad untuk melaksanakan nya untuk menebus semua dosa2 kepada organisasi yang memberikan segalanya kepada ku.

Untuk perpustakaan ini, banyak konsep yang telah aku pelajari.....
semoga berhasil.....
ngantog kawan......


No comments:

Post a Comment